Skip to main content

Petani Pantura Memasuki Musim Tanam Januari 2019


Berdasarkan pantauan admin, para petani diwilayah pantura yakni wilayah kecamatan Brondong Kecamatan Paciran dan Kecamatan Solokuro telah memasuki musim tanam petani yang merupakan petani sawah tadah hujan tersebut hanya bisa menanam padi jika ketersediaan pengairan mencukupi karena ketersediaan air didapatkan hanya dari hujan maka mereka bisa melakukan aktifitas penanaman hanya saat musim hujan.

Sebenarnya ada solusi untuk perairan didaerah Brondong dan sekitarnya yakni melalui aliran sodetan sungai bengawan solo yang sudah mulai di tata oleh pemerintah desa setempat, meskipun demikian pasokan air dari sodetan bengawan tersebut belumlah mencukupi ketika musim kemarau tiba pasalnya air tersebut tidak hanya digunakan oleh para petani setempat tetapi juga di gunakan oleh pabrik-pabrik di daerah sekitar sungai sodetan bengawan solo tersebut, 

Seperti pada musim kemarau pada tahun 2018 kemarin ketika hujan tidak turun selama 6 bulan yakni mulai ulan Juli sampai Nopember-Desember maka banyak sekali petani yang mengalami kerugian yang sangat besar para petani khususnya petani cabai yang merasakan dampak tersebut karena cabai yang ditanam kekurangan air maka tanaman cabai tersebut mati dengan sendirinya, dampak lain juga dialami petani melon yang mengalami gagal panen karena kekurangan pengairan, petani jagung dan petani padi juga sama mereka tidak bisa menanam karena kondisi kekeringan tersebut,

Dalam kondisi seperti ini maka sudah dapat dipastikan bahwa perekonomian masyarakat pantura khususnya petani juga melemah karena dampak kekeringan tersebut daya beli dipastikan menurun karena krisis dibidang perairan.

Sekarang ditahun 2019 tepatnya tanggal 16 Januari 2019 mereka menyambut musim tanam dengan gembira dan penuh semnagat karena saatnya mereka memperbaiki lagi perekonomian keluarga dan berharap dapat memanen dari apa yang mereka tanam saat ini.


Comments

Popular posts from this blog

Widhe Sendangharjo Brondong

Widhe adalah nama sebauah  Dusun yang terletak di Desa Sendangharjo Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur Indonesia, sebuah desa yang masih sejuk segar dan asri hutan yang hijau area pertanian yang luas dan penduduk yang ramah.
Konon menurut para pakar widhe berarti dari bahasa sansakerta widhi yang berarti pengetahuan. oleh karena bawaan nama tersebut penduduknya (Penduduk Asli) sangat menyukai kegiatan kegiatan yang berbau pendidikan pergerakan pergerakan yang bernafas pengetahuan khususnya pengetahuan keagamaan.
Dari sisi pemerintahan dusun widhe mengikuti Desa Sendangharjo dan dipimpin oleh seorang Kepala Desa, Desa Sendangharjo terdiri atas 3 Dusun yaitu Dusun Widhe (Pusat Desa), Dusun Benges Dusun Mencorek masing-masing dusun terpisah oleh indahnya pemandangan area persawahan yang subur dan hijau, dari sisi penduduk Desa Sendangharjo terdiri dari kurang lebh 4.500 jiwa  
Mayoritas penduduk Dusun Widhe adalah Petani dan Buruh Tani, Buruh Pabrik dan sebagian kecil…

PESAREHAN SYEKH IBRAHIM ASMOROQONDI GISIKHARJO PALANG TUBAN

Baiklah sahabat jelajah pantura kali ini saya ingin berbagi tulisan tentang pengetahuan sejarah khususnya sejarah penyebaranbagama islam ditanah jawa dalam hal ini saya akan menulis khusus pada beliau almaghfurlah Syekh Ibrahim Asmoroqondi .
Beliau Syekh Ibrahim Asmoroqondi adalah ayah dari raden Ali Rohmatullah atau Sunan Ampel, Makamnya terletak di Desa Gisikharjo Kecamatan Palang Kabupaten Tuban Jawa Timur, Babad Tanah Jawi menyebut namanya Dengan Makdum Ibrahim Asmoro Atau Ibrahim Asmoro, sebutan tersebut mengikuti lidah jawa dalam melafalkan As samarkondi beliau dilahirkan di Samarkhan Asia Tengah pada Abad Ke-14.
Menurut Babat cerbon Syekh ibrahim Asmoroqondi adalah putera Syekh Karnen Berasal dati negeri tulen menurut babat cebon Syekh Ibrahim Asmoroqondi merupakan pendatang di kota samarkhan karena tulen adalah merujuk pada nama wilayah tyulen kepulain kecil ditepi laut kaspia wilayah kazakhstan.
Syekh Ibrahim Asmoroqondi acapkali disamakan dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim,…

Sumur Keramat Koboan Ungkal

Sumur kobaan ungkal adalah sumur tua yang berada di alas widhe Sendangharjo, diyakini warga sekitar sebagai sumur keramat dahulu era tahun 80 an sumur ini sering dikunjungi warga sekedar untuk mandi dan minum pasalnya air sumur ini sudah diyakini warga dapat menyembuhkan berbagai penyakit, dan airnya memberikan berkah. Salah satu keajaiban sumur ini yang dapat di rasakan warga sekitar adalah air yang keluar dari sumber yang jernih dari dalam sumur ini  saat musim kemarau, dan justru disaat musim hujan sumur ini sering tidak mengeluarkan air
Dalam keyakinan masyarakat sendangharjo dan sekitar sumur ini sangat keramat sehingga untuk menyentuh tanah bagian guna mengeruk linet dalam sumur ini tidak sembarang orang berani melakukan kecuali warga yang mempunyai nasab dan titisan dari mbah wali yang pertama kali menggali sumur ini, konon dahulu ada seorang bajing (*supir cikar) yang mengambil air minum untuk dia minum dan diminumkan ke sapi ternaknya namun di dapati air itu keruh dan banger…